Minggu, 25 April 2010

Pengajaran Sastra Berbasis Strategi Strata

Pengajaran Sastra Berbasis Strategi Strata
Oleh : Risa Rahayu, S.Pd.
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, SMAN 3 Surabaya

Dalam Kurikulum 2004 SMA, Pedoman Khusus Silabus dan Penilaian, Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, pembelajaran sastra harus bersifat apresiatif. Muara akhir pengajaran sastra adalah terbinanya apresiasi dan kegemaran terhadap sastra yang didasari oleh pengetahuan dan keterampilan di bidang sastra. Dari pengamatan langsung di kelas dan hasil diskusi yang intens dengan guru-guru bahasa Indonesia, diketahui ada beberapa masalah yang berhubungan dengan pembelajaran sastra pada umumnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu solusinya dengan menerapkan strategi strata. Strategi ini terdiri dari tiga langkah pokok, yaitu penjelajahan, interpretasi, dan re-kreasi. Strategi strata memungkinkan guru bekerja dengan siswa dalam kelompok-kelompok ataupun perseorangan dengan berbagai macam teknik yang disesuaikan dengan kondisi kelas. Strategi ini juga memberikan peluang diterapkannya empat aspek keterampilan berbahasa sebagai karakteristik pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Yang lebih penting lagi dari strategi ini adalah adanya kreativitas dari siswa untuk mengkreasikan kembali suatu karya sastra.

Latar Belakang

Sastra adalah suatu bentuk tanda seni yang bermediakan bahasa. Sastra hadir untuk dibaca dan dinikmati, serta selanjutnya dimanfaatkan, antara lain untuk mengembangkan wawasan kehidupan. Jadi, pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu tanda bentuk seni yang dapat diapresiasi. Oleh karena itu, dalam Kurikulum 2004 SMA, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian, Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, pembelajaran sastra harus bersifat apresiatif. Muara akhir pengajaran sastra adalah terbinanya apresiasi dan kegemaran terhadap sastra yang didasari oleh pengetahuan dan keterampilan di bidang sastra.
S. Efendi dalam Pengantar Apresiasi Karya Sastra mengatakan bahwa apresiasi adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasinya, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaninya.
Dari pengamatan langsung di kelas dan hasil diskusi yang intens dengan guru-guru bahasa Indonesia, ada beberapa masalah yang berhubungan dengan pembelajaran sastra pada umumnya, antara lain: a) kesulitan guru sastra dalam memperkenalkan karya sastra klasik maupun modern, kemudian menghubungkan dengan karya sastra kegemaran siswa dengan cara yang wajar dan menyenangkan ; b) kesulitan membicarakan sastra tanpa kehilangan sentuhan kepekaan reaksi, memberikan kegairahan dalam membaca; c) kesulitan menolong siswa bereaksi secara perorangan dengan kehalusan dan kerumitan yang berkembang, dan tidak hanya bergantung pada kedewasaan dan kematangan persepsi guru atau kritikus sastra.
Salah satu solusi untuk mengatasi masalah-masalah dalam pembelajaran sastra adalah dengan menerapkan strategi strata.

Strategi Strata

Strategi ini dinamakan strategi strata karena idenya didapatkan dari tulisan Leslie Strata dalam bukunya Pattern of Language . Strategi ini terdiri dari tiga langkah pokok yaitu penjelajahan, interpretasi, dan re-kreasi.

a. Penjelajahan
Apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku, melainkan pengertian yang di dalamnya menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara konkret. Perilaku kegiatan itu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung.
Dalam kaitannya dengan tahap penjelajahan, dalam strategi strata siswa melakukan kegiatan penjelajahan terhadap cipta sastra yang disukainya atau yang disarankan oleh guru dengan perilaku kegiatan secara langsung dan perilaku kegiatan secara tidak langsung.
Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks maupun performansi secara langsung.
Dalam kaitannya dengan apresiasi langsung dalam tahap penjelajahan ini, siswa dapat melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
1. Membaca karya sastra (puisi, cerpen, novel, roman, naskah drama) baik dengan membaca diam maupun membaca lisan.
2. Mendengarkan penyajian karya sastra, misal mendengarkan sandiwara radio, mengamati/menyaksikan pementasan drama/film/puisi dan sebagainya.
Selain dilakukan kegiatan apresiasi langsung, juga dilakukan apresiasi
sastra secara tidak langsung. Kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut.
1. Siswa mempelajari teori sastra.
2. Siswa membaca artikel yang berhubungan dengan kesusastraan, baik di majalah maupun koran.
3. Siswa mempelajari buku-buku maupun esai yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra serta mempelajari sejarah sastra.
4. Siswa bertanya tentang karya sastra yang sedang dijelajahinya kepada orang-orang yang dapat dijadikan narasumber karya sastra tersebut.
Kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung bukan hanya mengembangkan pengetahuan siswa tentang sastra melainkan juga akan meningkatkan kemampuan dalam rangka mengapresiasi cipta sastra . Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tidak langsung ini adalah relevansi sastra yang sedang dijelajahinya. Misalnya, dalam materi puisi siswa dengan kompetensi dasar mengungkapkan isi suatu puisi. Dalam hal ini siswa tidak hanya membaca teks puisi saja tetapi juga membaca buku-buku teori sastra tentang puisi, buku-buku esai yang membahas puisi tersebut, dan biografi pengarang tersebut.
Hal lain yang harus diperhatikan dalam kegiatan tidak langsung ini bahwa pembelajaran tentang teori-teori sastra hanyalah dimaksudkan untuk mendukung atau sebagai kontribusi untuk mengapresiasi karya sastra tersebut. Mengapa demikian? Dalam pembelajaran apresiasi sastra ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan sebagai berikut.
1. Pembelajaran sastra dapat meningkatkan kepekaan rasa terhadap budaya bangsa, khususnya bidang kesenian.
2. Pembelajaran sastra merupakan pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan dari karya-karya sastra.
3. Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan keterampilan pengajaran karya estetis melalui bahasa.
4. Pembelajaran sastra bukan merupakan pengajaran sejarah sastra , aliran, dan teori tentang sastra ( Ambang, 1999. Petunjuk Guru : Penuntun terampil berbahasa Indonesia 3).
Hal yang perlu diperhatikan juga dalam tahapan ini, untuk memahami dan menghayati karya sastra siswa diharapkan langsung membaca karya sastra dan bukan ringkasannya. Mengapa demikian? Kegiatan mengapresiasi sastra berkaitan erat dengan pelatihan mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Hal-hal tersebut tidak terlaksana apabila siswa tidak membaca secara utuh karya sastra tersebut. Siswa tidak akan mendapat kontribusi tentang nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya ,dan pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin ( baik yang berhubungan dengan keagamaan, filsafat, politik, budaya, dan sebagainya). Kandungan makna sastra yang begitu kompleks serta berbagai macam keindahan sastra tergabung lewat media kebahasaan, media tulis, dan struktur wacana yang utuh.

b. Interpretasi
Setelah penjelajahan, dilakukan penafsiran terhadap karya sastra yang sedang dijelajahi. Penafsiran dapat dilakukan dengan tanya jawab dan diskusi dengan temannya atau guru tentang karya sastra yang dibacanya. Dapat pula dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut.

c. Re-kreasi
Tahapan ini merupakan langkah pendalaman. Siswa diminta untuk mengkreasikan kembali hal-hal yang telah dipahaminya dalam tahapan interpretasi.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam tahapan ini adalah sebagai berikut.
1. Siswa memerankan isi puisi sesuai dengan daya imajinasi mereka.
2. Siswa mengubah bentuk puisi menjadi cerita narasi.
3. Siswa mengubah bentuk cerita ke dalam bentuk drama.
4. Siswa menuliskan kembali bagian dalam sastra klasik dengan gaya bahasa masa kini.
5. Siswa menuliskan bagian tertentu dari cerpen/novel dari sudut pandang yang berbeda (misal dari salah satu seorang pelaku cerita).
6. Mengubah gaya bahasa penulisan karya sastra, dan sebagainya.
Cara untuk melaksanakan setiap langkah dalam strategi strata bergantung pada teknik yang ingin dipergunakan oleh pengajar dan kondisi kelas. Strategi ini memungkinkan guru bekerja dengan siswa dalam kelompok atau pun perseorangan.
Penerapan strategi strata juga memberikan peluang diterapkannya empat aspek keterampilan berbahasa sebagai karakteristik dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Empat aspek keterampilan berbahasa tersebut adalah membaca, menulis, berbicara, menyimak. Yang tak kalah menariknya lagi dari strategi ini adalah adanya tahapan kreativitas dari siswa dalam mengkreasikan kembali suatu karya sastra.


**********

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar